Sulastri Lastone Peot

Aku lahir di Pati 25 Mei 1971. Profesi pertamaku adalah sebagai guru tari di berbagai lembaga pendidikan dari TK,SD, SMP, SMA dan umum. Aku lulusan IKIP Semaran...

Selengkapnya

Usaha Meningkatkan Keberanian Anak Melalui Kegiatan Seni Tari Jawa Di TK Bandarjo II

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan awal dan utama dalam membentuk karakter anak. Pendidikan yang baik dan benar akan sangat mempengaruhi karakter dan perkembangan anak selanjutnya. Di luar rumah antara lain lingkungan dalam hal ini sekolah (Taman Kanak-kanak) hanya sebagai bantuan atau penunjang dalam pendidikan anak. TK Bandarjo II merupakan lembaga pendidikan anak usia dini dibawah naungan Dinas Pendidikan. TK Bandarjo II terletak di Kelurahan Bandarjo Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang dengan wali murid yang mempunyai latar belakang sosial ekonomi menengah kebawah dengan aneka ragam persoalan kehidupan. Dari keadaan sosial tersebut pada awal masuk sekolah tahun ajaran baru kebanyakan anak-anak masih pada takut untuk lepas dari orang tuanya. Anak-anak menginginkan orang tuanya untuk selalu dekat pada saat berbaris sampai masuk ke dalam kelas.

Anak-anak yang seharusnya sudah mampu untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan berani tetapi pada kenyataannya anak-anak masih banyak yang takut untuk melakukannya sendiri. Mereka masih menemui orang tuanya untuk meminta bantuan atau dengan cara menangis agar guru mau membantu menyelesaikan kegiatannya. Jika merasa tidak ada orang terdekat yang ada disampingnya maka anak akan menyendiri menjauhi teman-temannya.

Dari latar belakang itulah yang dapat mempengaruhi anak dalam kehidupannya yaitu keberanian anak sangat kurang dan masih tergantung pada orang tua. Masalah tersebut menjadikan kegiatan pembelajaran anak-anak lemah sehingga pada saat guru memberikan kegiatan pembelajaran memberikan hasil yang tidak diharapkan. Anak disuruh maju untuk menyanyi, deklamasi, atau kegiatan yang lain tidak mau melakukannya dengan menggelengkan kepala atau malah menangis. Hal itu kemungkinan karena akibat dari ketidaktegaan orang tua untuk menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah dengan alasan khawatir jika anaknya menangis sehingga merepotkan guru. Disamping itu juga keinginan anak untuk selalu ditunggu dalam kegiatan pembelajaran. Semua itu mengakibatkan kegiatan pembelajaran di kelas juga terganggu dan kurang berhasil.

Jika rentetan peristiwa maupun kejadian tersebut tidak segera ditangani dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya keterpurukan dalam hal keberanian yang mengakibatkan perkembangan terganggu dan turunnya mental anak apabila mereka berada ditempat yang baru dikenal. Melihat kondisi demikian menjadikan peneliti mengambil cara dengan melakukan penelitian tindakan kelas melalui kegiatan Seni Tari Jawa.

Dengan kegiatan Seni Tari Jawa dapat melatih motorik anak untuk terampil dalam melakukan gerakan secara terkoordinasi, melatih indera perasa untuk berperilaku ramah, lembut, sopan dan santun sesuai dengan agama dan budaya, mengenal cara untuk mengeluarkan ide atau gagasan, berani tampil didepan teman, guru, orang tua dan lingkungan sosial lainnya dan yang pasti mengenalkan anak untuk mencintai budaya asli Indonesia. Jika berhasil maka akan memudahkan guru untuk mengarahkan keberanian dalam melakukan kegiatan apapun.Kegiatan Seni Tari Jawa sangat berhubungan erat dengan gerak. Gerak merupakan salah satu unsur pokok dalam kehidupan dan akan selalu mengalami perubahan. Jika kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, anak tidak akan lepas dari gerak. Diantaranya gerak berjalan, berlari, melompat, meloncat, berjongkok, berkejar-kejaran dan segala bentuk gerak dasar yang lain. Dalam kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak, gerak di ekspresikan dalam wujud seni gerak yaitu seni tari. Akan tetapi dalam kegiatan pembelajaran seni tari kadang kala diabaikan oleh sebagian guru atau wali murid. Sebagian guru atau wali murid hanya menganggap menari sekedar kegiatan olah tubuh atau hiburan agar anak-anak senang. Ada juga yang beranggapan jika anak-anak sudah mampu melakukan gerakan tari kemudian ditampilkan dalam acara pentas seni anak berarti selesai sudah kegiatan pembelajaran menari yang diikutinya. Melalui kegiatan Seni Tari Jawa peneliti mengharapkan dapat merangsang anak untuk dapat berkonsentrasi dalam melakukan gerakan tari yang membawa jiwa dan perasaan anak akan hanyut dengan alunan musik. Jika anak sudah terbuai dengan alunan musik dan anak menirukan gerakan seperti yang guru sampaikan, untuk sementara waktu lambat laun anak mau lepas dari orang tua. Dari sinilah kita siap untuk mengenalkan dan melatih mental anak untuk bersikap berani. Berani dalam bertindak dan tidak takut lagi apabila mendapatkan tugas dari guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut serta untuk memperjelas permasalahan yang akan dibahas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

Apakah melalui kegiatan Seni Tari Jawa dapat meningkatkan keberanian anak di Kelompok A2 TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut:

1. Penerapan kegiatan Seni Tari Jawa dalam upaya meningkatkan keberanian anak di kelompok A2 TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang.

2. Seberapa besar hasil peningkatan keberanian anak di Kelompok A2 setelah mengikuti kegiatan Seni Tari Jawa.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mendapatkan informasi bahwa dengan menerapkan kegiatan Seni Tari Jawa dapat meningkatkan keberanian anak.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat Bagi Anak Didik

1) Anak didik mengalami peningkatan dalam hal keberanian.

2) Anak didik dapat terlatih motoriknya untuk terampil dalam melakukan gerakan secara terkoordinasi, melatih indera perasa, berani tampil didepan teman, guru, orang tua, lingkungan sosial dan mengenal sekaligus mencintai budaya asli Indonesia.

b. Manfaat Bagi Guru

Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah untuk menghadapi anak yang kurang mempunyai keberanian.

c. Manfaat Bagi Peneliti

Melalui penelitian ini peneliti memperoleh wawasan dan pengalaman serta dapat menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan kegiatan Seni Tari Jawa.

d. Manfaat Bagi Sekolah

Penelitian Tindakan Kelas ini mempunyai pengaruh yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar anak karena dengan keberanian yang tertanam dalam diri anak akan memudahkan guru untuk memberikan kegiatan pembelajaran sehingga diharapkan guru-guru yang lain termotivasi dalam pembelajaran kegiatan Seni Tari Jawa.

e. Manfaat Bagi Orang Tua Anak

Manfaat bagi orang tua yaitu dengan kegiatan menari ternyata memupuk keberanian dari anak yang semula pendiam, pemalu, cengeng menjadi anak yang aktif dan pemberani.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pengertian Upaya

Menurut Tim Penyusun Departemen Pendidikan Nasional (2008:1787), “Upaya adalah usaha, akal atau ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya”.

2. Pengertian Berani

Menurut Tim Penyusun Departemen Pendidikan Nasional (2008:180), “berani adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi kesulitan”. Selanjutnya menurut Peter (2003) sebagaimana dikutip oleh Murni (2012:20), “keberanian adalah suatu tindakan memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting dan mampu menghadapi sesuatu yang dapat menghalanginya karena percaya kebenarannya.”

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keberanian adalah suatu tindakan yang mantap dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dari dalam diri, sehingga timbul semangat yang dapat memotivasi diri untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting.

3. Pengertian Seni

Seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa karena karakter fisik maupun mental.

Seni mempunyai arti yang kompleks. Batasan atau maknanya ditentukan oleh banyak faktor, seperti kurator, kritikus, pasar, pranata-pranata, paradigma akademis, kosmologi kultural, perubahan zaman, aliran filsafat, dan sebagainya (Sugiharto, B. 2014).

Dalam bukunya Tinjauan Seni, Soedarso Sp. menjelaskan bahwa kata “Seni” berasal dari kata sani dalam bahasa Sanskerta yang bearti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencaharian dengan hormat dan jujur.

Dari beberapa pengertian seni maka seni dalam arti sempit adalah kegiatan manusia dalam mengekspresikan pengalaman hidup dan kesadaran artistiknya yang melibatkan kemampuan intuisi, kepekaan indriawi dan rasa, kemampuan intelektual, kreativitas serta keterampilan teknik untuk menciptakan karya yang memiliki fungsi personal atau sosial dengan menggunakan berbagai media.

4. Pengertian Tari

Tari sering disebut juga dengan “beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, yang mempunyai pengertian bahwa orang yang menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.

Soedarsono mengatakan bahwa tari adalah desakan perasaan manusia tentang sesuatu yang disalurkan melalui gerak-gerak ritmis yang indah. Selanjutnya Curt Sach mengatakan tari adalah gerak tubuh yang ritmis. Dari beberapa pengertian tari tersebut dapat disimpulkan bahwa tari adalah ungkapan gagasan, perasaan manusia melalui gerak yang ritmis dan indah.

Unsur utama tari adalah gerak, akan tetapi tidak semua gerak dapat dikatakan tari. Tari diwujudkan dengan gerakan tubuh. Gerakan tubuh ini membutuhkan tenaga, ruang dan waktu. Tenaga adalah kekuatan yang mendorong terjadinya gerak. Kekuatan itu sendiri ada kekuatan yang berat atau ringan dan kuat atau lemah. Ruang adalah tempat untuk bergerak. Tempat untuk bergerak disini diartikan sebagai panggung atau tempat pentas untuk menari, baik panggung terbuka atau panggung tertutup. Waktu adalah saat yang diperlukan penari untuk melakukan gerak. Waktu tergantung pada cepat lambatnya (tempo) penari dalam melakukan gerak, panjang pendeknya ketukan (ritme) dalam melakukan gerak dan lamanya (durasi) penari dalam melakukan gerak.

Gerak merupakan dasar belajar tari yang dapat memberikan pemahaman kognitif antara ide, gerak, maksud, hasil atau solusi. Gerak yang dimaksud dalam tari adalah gerakan-gerakan dari bagian tubuh manusia yang telah diolah dari gerak keadaan wantah (keseharian) menjadi suatu gerak tertentu, yang dalam istilah tari gerak yang telah mengalami penghalusan dan perombakan. Bagian-bagian tubuh yang mempunyai peran dalam menari adalah : Struktur Tubuh, Olah Tubuh dan Keterampilan Tubuh.

Anak pada umumnya senang bergerak. Ketika anak bergerak sambil menari, merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. Bergerak sambil menari akan membantu baik guru maupun anak untuk memahami gerak yang ada dalam tari. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika anak bergerak, mereka dapat menghubungkan tarian dengan bidang lain, anak memahami kesadaran gerak yang dirancang utuk kepentingan belajar (Catterall, 2002). Tari dapat membantu anak menciptakan gerak secara spontan dan mampu menggunakan gerakan untuk menyampaikan sesuatu.

5. Pengertian Jawa

Jawa sangat berhubungan erat dengan budaya dan bahasa Jawa. Yang terkenal sampai ke mancanegara dengan masyarakatnya yang ramah, mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Jawa yang menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan dengan tingkah laku dan tutur kata yang lembut.

Budaya daerah dalam hal ini budaya Jawa merupakan salah faktor terbentuknya kebudayaan nasional yang merupakan kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaannya oleh setiap individu. Budaya Jawa diantaranya adalah lagu Jawa atau lagu dolanan Jawa yang berhubungan erat dengan tari Jawa.

Generasi muda terutama anak-anak merupakan pemegang tongkat estafet perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan memahami dan mengenal budaya Jawa yaitu tari Jawa maka sangat diharapkan mereka akan merasa bangga, ikut memiliki, dan mencintai budaya dan sekaligus melestarikannya.

Disini peran orang tua dan pendidik sangat penting untuk membantu anak didik mengenalkan budaya Jawa yang didalamnya terkandung pendidikan moral dan budi pekerti sehingga kelak jika sudah dewasa akan berakhlak mulia.

6. Pengertian Seni Tari Jawa

Dari pengertian Seni, pengertian Tari, dan pengertian Jawa maka dapat disimpulkan bahwa Seni Tari Jawa yaitu ungkapan gagasan, perasaan manusia melalui gerak yang ritmis dan indah, mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Dalam hal ini peneliti menggunakan gending Jawa (gamelan Jawa) dan lagu dolanan Jawa (piano, organ, dsb)

7. Penelitian Yang Relevan

Ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian tentang kemandirian anak, diantaranya Lilis Setyowati (2013) dengan judul Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Melalui Gerakan Tari Pada Kelompok B Taman Kanak-kanak Kemiri 02 Kebakkramat Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013. Penelitian tersebut mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran melalui gerakan tari dapat meningkatkan kemandirian anak. Hal tersebut dapat diketahui dari adanya peningkatan nilai kemandirian pada tiap siklusnya. Dari kemandirian anak pada Siklus I yang semula 30% meningkat menjadi 45 %. Pada Siklus II kemandirian anak meningkat kembali menjadi 95 %.

Penelitian yang ditulis oleh Milawaty Eki (2012) dengan judul Meningkatkan Sosial Emosional Anak Melalui Seni Tari Kreasi Di Kelompok B pada TK Negeri Pembina Sipana Kota Gorontalo. Penelitian tersebut mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran dengan Seni Tari Kreasi yang dapat meningkatkan Sosial Emosional anak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan keberhasilan dengan meningkatnya nilai Sosial Emosional anak setelah menggunakan pembelajaran Seni Tari Kreasi. Hal ini terbukti dari Siklus I yaitu 25 % meningkat menjadi 65%. Pada Siklus II meningkat menjadi 85 %.

Dari kedua penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan kegiatan pembelajaran seni tari ternyata dapat meningkatkan kemandirian maupun sosial emosional anak. Sosial emosional itu sendiri sangat berhubungan erat dengan kemandirian dan keberanian pada diri anak. Apabila sosial emosional terbentuk dengan baik maka dalam diri anak akan tumbuh rasa kerja sama, disiplin, percaya diri, kemandirian, dan keberanian dalam melakukan kegiatan.

Dari kedua penelitian diatas dibandingkan dengan peneliti sendiri hampir mendekati kesamaan. Hal yang membedakan dari kedua peneliti diatas dengan peneliti sendiri adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk melakukan penelitian. Jika peneliti Lilis Setyowati dalam melaksanakan penelitian menggunakan kegiatan Gerakan Tari dan peneliti Milawaty Eki menggunakan kegiatan Tari Kreasi, maka peneliti sendiri menggunakan Kegiatan Seni Tari Jawa, yang ketiganya mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kemandirian anak. Dan didalam Sosial Emosional itu sendiri akan menumbuhkan keberanian.

B. Kerangka Berpikir

Ketidakberanian anak didik kelompok A2 TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat diperoleh dari hasil pengamatan adalah sebagai berikut :

No

Kategori Nilai

Jumlah Anak

Tingkat

Keberhasilan (%)

1

Belum Muncul

13

81,25 %

2

Mulai Muncul

3

18,75 %

3

Berkembang Sesuai Harapan

0

0

4

Berkembang Sangat Baik

0

0

Jumlah

16

100 %

Dari hasil pengamatan diatas diduga hal-hal yang menyebabkan kurangnya keberanian anak adalah sebagai berikut :

1. Anak tidak ingin lepas dari orang tuanya.

2. Anak takut jika tidak bisa menyelesaikan tugas.

3. Anak belum siap mengikuti kegiatan.

4. Kurangnya sosialisasi anak dengan teman-temannya.

Adapun penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar kerangka berpikir berikut ini :

KONDISI

Guru belum melakukan

tindakan perbaikan

Keberanian anak sangat kurang

KONDISI

TINDAKAN

Diduga dengan kegiatan seni tari Jawa dapat meningkatkan keberanian anak

Guru memanfaatkan kegiatan seni tari Jawa

Siklus I

Siklus I

C. Hipotesa Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut maka hipotesis tindakan kelas yang dihasilkan adalah diduga melalui kegiatan Seni Tari Jawa dapat meningkatkan keberanian anak di Kelompok A2 TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Kelompok A2 TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2015/2016. Anak didik kelompok A2 terdiri dari 16 anak yang terbagi menjadi 7 anak laki-laki dan 9 anak perempuan.

B. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah kegiatan Seni Tari Jawa dengan menggunakan lagu-lagu Jawa / dolanan Jawa. Gerakan yang disampaikan kepada anak-anak mengandung unsur gerak tari Jawa yang tentu saja disederhanakan, sesuai dengan usia perkembangan anak, misalnya ukel, srisig, mendhak, dsb.

C. Design Penelitian

Permasalahan

Pelaksanaan

Tindakan I

Perencanaan

Tindakan I

Refleksi I

Pengamatan/

pengumpulan Data I

Siklus I

Perencanaan

Tindakan II

Pelaksanaan

Tindakan II

Permasalahan baru hasil refleksi

Pengamatan/

pengumpulan Data II

Refleksi II

Siklus II

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian tindakan kelas ini adalah :

1. Variabel Independent

Yang menjadi pokok pembahasan pada variabel independent disini adalah seni tari Jawa.

2. Variabel Dependent

Yang menjadi akibat dari variabel dependent disini adalah keberanian anak dalam melaksanakan kegiatan.

E. Data Anak

Data anak berdasarkan tingkat keberanian anak yang diperoleh dari hasil pengamatan dalam sehari-hari sebagai berikut :

NO

NAMA ANAK

ASPEK PENILAIAN

Kesiapan

sosialisasi

keterampilan

keberanian

1

Aira

2

Alifah

3

Alea

4

Andra

5

Azza

6

Chilla

7

Dewi

8

Diga

9

Ivan

10

Laely

11

Marsyela

12

Maycelfin

13

Rania

14

Rangga

15

Ryezka

16

zaky

F. Sumber Data

Sumber data diperoleh dari data penelitian yang dikumpulkan berupa hasil pengamatan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran, yang ditulis dalam buku penilaian anak.

PENILAIAN MINGGUAN PERKEMBANGAN ANAK

KELOMPOK : A 2

T E M A : Kebutuhanku

INDIKATOR : KD 2.5 Berani tampil didepan teman, guru,

orang tua dan lingkungan sosial lainnya

NO

NAMA ANAK

M I N G G U

1

2

3

4

1

Aira

2

Alifah

3

Alea

4

Andra

5

Azza

6

Chilla

7

Dewi

8

Diga

9

Ivan

10

Laely

11

Marsyela

12

Maycelfin

13

Rania

14

Rangga

15

Ryezka

16

zaky

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang peneliti laksanakan adalah praktek langsung serta teknik pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data ini dilakukan berdasarkan indikator peningkatan keberanian anak yang dikatakan meningkat apabila telah mencapai kriteria berani dengan ketentuan minimal 75 % dari jumlah peserta didik.

I. Indikator Keberhasilan

NO

INDIKATOR

PENCAPAIAN SIKLUS TERAKHIR

CARA PENILAIAN

1

Kesiapan anak dalam mengikuti kegiatan

Minimal 75 % anak siap dalam mengikuti kegiatan

Pengamatan pada saat anak berbaris

2

Sosialisasi anak dengan temannya

Minimal 75 % anak mau bersosialisasi dengan temannya

Pengamatan pada saat anak berkumpul dengan teman-temannya

3

Keterampilan anak dalam melakukan gerakan

Minimal 75 % anak terampil dalam melakukan gerakan

Pengamatan pada saat anak melakukan gerakan yang disampaikan guru

4

Keberanian anak dalam beraksi

Minimal 90 % anak berani dalam beraksi

Pengamatan pada saat anak berani melakukan gerakan tanpa ditunggu orang tuanya dan tanpa bantuan guru

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Observasi

Kondisi awal anak didik kelompok A TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2015/2016 dalam hal keberanian masih sangat kurang. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya anak yang masih belum berani melakukan kegiatan sendiri. Masih takut dan minta ditunggu orang tuanya. Masih malu dan malah menangis apabila disuruh maju oleh guru untuk melakukan kegiatan apapun.

Data penilaian yang diperoleh menunjukkan kondisi awal anak didik berdasarkan penilaian pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dalam tema Kebutuhanku yaitu sebagai berikut :

NO

ASPEK YANG DINILAI

JUMLAH ANAK DIDIK

PERSENTASE

1

Kesiapan anak dalam mengikuti kegiatan

3

18,75 %

2

Sosialisasi anak dengan temannya

3

18,75 %

3

Keterampilan anak dalam melakukan gerakan

5

33,25 %

4

Keberanian anak dalam beraksi

4

25 %

B. Deskripsi Hasil Tindakan

Peneliti merencanakan kegiatan perbaikan dengan jadwal kegiatan perbaikan sebagai berikut :

Siklus I

1. RKH 1 dilaksanakan pada tanggal 7 September 2015

2. RKH 2 dilaksanakan pada tanggal 8 September 2015

3. RKH 3 dilaksanakan pada tanggal 9 September 2015

4. RKH 4 dilaksanakan pada tanggal 10 September 2015

5. RKH 5 dilaksanakan pada tanggal 11 September 2015

Siklus II

1. RKH 1 dilaksanakan pada tanggal 14 September 2015

2. RKH 2 dilaksanakan pada tanggal 15 September 2015

3. RKH 3 dilaksanakan pada tanggal 16 September 2015

4. RKH 4 dilaksanakan pada tanggal 17 September 2015

5. RKH 5 dilaksanakan pada tanggal 18 September 2015

Prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan melalui tahap-tahap kegiatan awal (apersepsi), kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan yang tercantum dalam RPPH.

Kegiatan yang dilaksanakan peneliti pada siklus I dari tanggal 7 sampai dengan 11 September 2015 adalah sebagai berikut :

RKH 1

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Gundhul Pacul” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 2

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Aku Duwe Pitik” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 3

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Jamuran” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 4

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Aja Rame-rame” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 5

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Sluku-sluku Bathok” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

Pada Siklus II peneliti menyusun kegiatan perbaikan pembelajaran sebagai perbaikan atau peningkatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I.

Kegiatan perbaikan pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut :

Siklus II

Kegiatan yang dilaksanakan peneliti pada siklus II dari tanggal 14 sampai dengan 18 September 2015 adalah sebagai berikut :

RKH 1

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Suwe Ora Jamu” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 2

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Dondong Apa Salak” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 3

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Ilir-ilir” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 4

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “Tari Lesung Jumengglung” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

RKH 5

1. Pendidik mengajak anak-anak ke ruang tempat kegiatan menari.

2. Pendidik mengajak anak-anak untuk membentuk barisan.

3. Pendidik mulai memberikan kegiatan menari “tari Jaranan” dan memberi aba-aba kepada anak-anak untuk menirukan gerakan yang disampaikan.

4. Anak-anak menirukan gerakan yang disampaikan pendidik.

C. Isi Penelitian

1. Pra Siklus

Keberanian anak sebelum diberikan kegiatan Seni Tari Jawa belum maksimal. Kemampuan kegiatan Seni Tari Jawa pada Pra Siklus disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini :

NO

NAMA

H A S I L

BM

MM

BSB

BSH

1

Aira

2

Alifah

3

Alea

4

Andra

5

Azza

6

Chilla

7

Dewi

8

Diga

9

Ivan

10

Laely

11

Marsyela

12

Maycelfin

13

Rania

14

Rangga

15

Ryezka

16

zaky

Tabel Hasil Pra Siklus

No

Kategori Nilai

Jumlah Anak

Tingkat

Keberhasilan (%)

1

Belum Muncul

13

81,25 %

2

Mulai Muncul

3

18,75 %

3

Berkembang Sesuai Harapan

0

0

4

Berkembang Sangat Baik

0

0

Jumlah

16

100 %

Siklus I

Hasil keberanian anak sebelum dilaksanakan perbaikan, keberanian anak yang Belum Muncul 81,25 %, Mulai Muncul 18,75 %, Berkembang Sesuai Harapan 0, Berkembang Sangat Baik 0.

Berdasarkan hasil perbaikan diatas maka dilakukan perbaikan pada Siklus I.

Hasil kemampuan kegiatan Seni Tari Jawa pada Siklus I disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini :

NO

NAMA

H A S I L

BM

MM

BSB

BSH

1

Aira

2

Alifah

3

Alea

4

Andra

5

Azza

6

Chilla

7

Dewi

8

Diga

9

Ivan

10

Laely

11

Marsyela

12

Maycelfin

13

Rania

14

Rangga

15

Ryezka

16

zaky

Tabel Siklus I

No

Kategori Nilai

Jumlah Anak

Tingkat

Keberhasilan (%)

1

Belum Muncul

1

6,25 %

2

Mulai Muncul

2

12,5 %

3

Berkembang Sesuai Harapan

8

50 %

4

Berkembang Sangat Baik

3

18,75 %

Jumlah

16

100 %

Siklus II

Hasil keberanian anak pada siklus I, keberanian anak yang Belum Muncul 6,25 %, Mulai Muncul 12,5 %, Berkembang Sesuai Harapan 50 % , Berkembang Sangat Baik 18,75 %.

Berdasarkan hasil perbaikan diatas karena keberanian dianggap masih kurang maka dilakukan perbaikan pada Siklus II.

Kemampuan kegiatan Seni Tari Jawa pada Siklus II disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini :

NO

NAMA

H A S I L

BM

MM

BSB

BSH

1

Aira

2

Alifah

3

Alea

4

Andra

5

Azza

6

Chilla

7

Dewi

8

Diga

9

Ivan

10

Laely

11

Marsyela

12

Maycelfin

13

Rania

14

Rangga

15

Ryezka

16

zaky

Tabel Siklus II

No

Kategori Nilai

Jumlah Anak

Tingkat

Keberhasilan (%)

1

Belum Muncul

0

0

2

Mulai Muncul

1

6,25 %

3

Berkembang Sesuai Harapan

0

0

4

Berkembang Sangat Baik

15

93,75 %

Jumlah

16

100 %

D. Pembahasan

Siklus I

Pada pelaksanaan perbaikan Siklus I peneliti menyampaikan kegiatan Sentrawa tanpa menggunakan alat peraga. Berdasarkan hasil dalam tabel 2 terlihat bahwa pada Siklus I terjadi peningkatan hasil pembelajaran. Tanpa alat peraga sebenarnya anak tidak akan merasa kesulitan dalam kegiatan menari. Meskipun anak tidak merasa kesulitan dalam kegiatan menari, namun dalam Siklus I masih ada anak yang pasif dan kesulitan dalam memeragakan tari.

Secara keseluruhan Siklus I dapat dikategorikan belum berhasil untuk meningkatkan kemampuan anak dalam kegiatan tari.

Namun ada beberapa kelebihan dalam Siklus I yaitu dengan musik yang ceria anak-anak antusias dalam melakukan gerakan. Selain itu guru juga berusaha untuk melibatkan semua anak untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Siklus I juga mempunyai kekurangan yang disampaikan oleh Teman Sejawat yaitu kegiatan Seni Tari Jawa yang disampaikan kepada anak-anak belum maksimal. Guru kurang menguasai kelas sehingga perhatian anak terhadap guru kurang.

Siklus II

Dalam melakukan kegiatan Tindakan Penelitian Kelas pada siklus II guru menggunakan alat peraga sesuai dengan tari yang disampaikan. Akan tetapi pada Siklus II ini guru lebih menekankan perhatian kepada anak yang kurang dalam menguasai materi dengan cara memegang tangan anak untuk ikut melakukan gerakan tari. Guru juga memberikan reward berupa tepuk tangan yang meriah kepada anak yang mau maju untuk memeragakan tarian dengan maksud agar anak yang tidak mau maju tergerak hatinya untuk mau maju memeragakan tarian seperti teman-temannya. Dan dengan reward yang diberikan guru, anak-anak lebih bersemangat dan berani tampil untuk membawakan tarian yang telah disampaikan guru.

Dari hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di Kelompok A TK Bandarjo II Kecamatan Ungaran Barat dengan jumlah 16 anak dapat dibuat rekapitulasi sebagai berikut :

Kategori Nilai

Jumlah Tingkat Keberanian Anak

Tingkat Keberhasilan (%)

Kriteria

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

BB

13

1

0

81,25 %

6,25 %

0 %

Belum Muncul

MB

3

2

1

18,75 %

12,5 %

6,25 %

Mulai Muncul

BSH

0

8

0

0 %

50 %

0 %

Berkembang Sesuai Harapan

BSB

0

3

15

0 %

18,75 %

93,75 %

Berkembang Sangat Baik

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan keberanian anak pada tiap siklusnya. Keberanian anak pada siklus I sebesar 18,75%. Keberanian anak pada siklus II sebesar 93,75%. Sehingga tingkat keberanian anak meningkat 75%.

Keberanian anak dari pra siklus ke siklus II naik 93,75 %.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penerapan kegiatan Seni Tari Jawa pada tindakan perbaikan pembelajaran menari untuk meningkatkan keberanian anak yang dilaksanakan di TK Bandarjo II ternyata memberkan hasil yang memuaskan. Motivasi dari guru dan orangtua anak juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan keaktifan anak untuk mewujudkan keberanian anak. Dengan kegiatan seni tari Jawa anak akan terdidik untuk tetap menjaga tradisi budaya Indonesia yang berkarakter baik dan santun.

B. Saran

Berdasarkan pembahasan pada hasil perbaikan maka diberikan saran sebagai berikut :

1. Guru TK diharapkan terus mengikuti perkembangan tentang dunia pendidikan anak usia dini dalam bidang pengembangan seni sehingga dapat meningkatkan kualitas bidang pengembangan lainnya.

2. Kegiatan menari perlu dilakukan secara konsisten untuk membantu pribadi anak lebih berani tampil penuh percaya diri jikalau memeragakan tarian di hadapan teman-temannya, panggung atau arena.

3. Kegiatan menari perlu disosialisasikan baik kepada guru maupun orangtua sehingga terjadi sinkronisasi dalam memberikan harapan yang wajar dengan cara memberi motivasi agar minat anak dalam kegiatan menari dapat berkembang baik.

4. Dengan kegiatan Seni Tari Jawa anak terus diberi motivasi agar tetap mencintai budaya Indonesia sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Setiawan, Denny. (2014). Panduan Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Gunarti, Winda. (2014). Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Rachmi, Tetty. (2014). Keterampilan Musik Dan Tari. Jakarta : Universitas Terbuka.

AK, Mudjito. (2014). Pedoman Pembelajaran Bidang Pengembangan Fisik/Motorik Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Anggoro, M. Toha (2014). Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali